Perlindungan Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional Menurut Kementerian Kehutanan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengemukakan bahwa perlindungan terhadap lahan basah sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati serta mendukung perekonomian masyarakat pesisir. Dalam konteks ini, lahan basah diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai ekosistem, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa lahan basah seharusnya menjadi kawasan yang kaya akan biodiversitas, yang berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus sumber ekonomi. Pentingnya perlindungan ini menuntut perhatian lebih dari berbagai institusi dan masyarakat secara umum.

Raja Juli menambahkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern sudah membawa banyak kemajuan dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan. Namun, dia menekankan bahwa kearifan lokal memiliki posisi yang strategis dan harus terus dipelihara dalam pengelolaan lahan basah.

Pentingnya Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lahan Basah

Masyarakat lokal, menurut Raja Juli, sudah memiliki pengetahuan mendalam tentang ekosistem lahan basah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka memahami dengan baik pola pasang surut, sistem pertanian yang efektif, serta migrasi burung yang terjadi di kawasan basah.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tradisional ini perlu diakui dan diintegrasikan dalam riset dan pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga formal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan pengelolaan lahan basah.

Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk menginstitusionalisasi praktik-praktik tradisional yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah. Kerjasama antara masyarakat lokal dan institusi pemerintah pun sangat vital untuk mencapai tujuan tersebut.

Komitmen Indonesia Terhadap Perlindungan Lahan Basah

Indonesia memiliki tanggung jawab besar sebagai anggota Konvensi Ramsar dengan delapan lokasi lahan basah yang telah terdaftar sebagai situs penting. Raja Juli menekankan bahwa kekayaan lahan basah di Indonesia sangat luar biasa dan perlu dikelola secara bijak.

Sekitar 23 persen dari keseluruhan mangrove dunia berada di Indonesia, menunjukkan betapa vitalnya posisi negara ini dalam menjaga ekosistem global. Dengan kekayaan lahan basah yang demikian besar, kolaborasi antara berbagai pihak menjadi semakin penting.

Raja Juli juga mengajak semua pihak, baik di level nasional maupun internasional, untuk bersatu dalam menjaga dan merawat lahan basah. Menurutnya, ini adalah titipan dari Tuhan yang harus dijaga untuk generasi masa depan.

Mendorong Kerjasama Internasional untuk Ekosistem Mangrove

Dalam acara tersebut, Ms. Alice Birnbaum, perwakilan Kedutaan Besar Kanada, mengungkapkan kebanggaannya atas kerjasama dengan Kementerian Kehutanan. Kerjasama ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem mangrove dan mendukung masyarakat pesisir yang bergantung padanya.

Dia juga menambahkan bahwa mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pemandangan yang indah tetapi juga sebagai penopang biodiversitas. Keberadaan mangrove berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang lebih luas.

Mangrove menjadi lapisan pertahanan yang mampu menyerap karbon, membantu mengurangi dampak perubahan iklim, dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies. Ini adalah contoh nyata bagaimana ekosistem dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.

Related posts